Sabtu, 12 Februari 2011

Pegawai Honorer,PTT.GTT Segera di tindaklanjuti

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) terus memperjuangkan nasib semua guru baik PNS maupun Non-PNS (honorer, wiyata bakti, bantu, PTT/GTT). Hal ini dibuktikan dari hasil rapat kerja PB PGRI dengan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi serta Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN)

Beberapa hasil perjuangan dalam rapat Kerja dengan Menpan dan Reformasi Birokrasi serta kepala BKN tanggal 11 Februari 2011 adalah:

1.      Tahun 2011 sebanyak 197.678 guru dan tenaga honorer, termasuk CPNS dan 5.966 orang guru bantu  Banyuwangi akan diangkat PNS
2.      Segera diterbitkan PP mengenai Penyelesaian Permasalahan tenaga Honorer
3.      Segera diterbitkan PP mengenai PTT (termasuk guru) yang antara lain memuat penghargaan/gaji minimal
4.      Segera diterbitkan Perpres mengenai BUP Penilik menjadi 60 tahun
5.      Segera dibayarkannya tunjangan profesi dan penambahan penghasilan Rp. 250.000/bulan (bagi yang belum dibayarkan)


Rabu, 09 Februari 2011

“Suara Nyamuk Memang Berisik, Pengkritik Memang Mengusik”

Mendengar suara nyamuk, rasanya begitu berisik. Padahal nyamuk itu kecil gak sampe sebesar klingking tangan kiri saya. Bukan lantaran suaranya saya merasa terusik dan berisik tapi lantaran suara itu pertanda nyamuk akan menggigit kulit pori-pori saya. Selain itu, adanya nyamuk di tempat kita berada, menjadi pertanda bahwa lingkungan kita kotor. Nyamuk adalah indicator tempat kita kotor

Bukan, nyamuk bukanlah satu makhluk yang bertugas membersihkan lingkungan kita yang kotor. Nyamuk hanya bertugas mengingatkan kita untuk senantiasa membersihkan lingkungan. Nyamuk hanya mengingatkan kita, supaya kita mau bersih-bersih dan memperbaiki keadaan (sikap) yang mengakibatkan lingkungan kita kotor.

Mari kita kaitkan, jika dalam suatu organisasi telah tercipta suasana dan sikap yang kotor, rusak dan perlu perbaikan. Maka akan muncul “nyamuk-nyamuk” yang berisik dan siap untuk menggigit rasa mapan penguasa organisasi. Penguasa organisasi bertipe apa pun akan merasa terusik dan merasa terganggu dengan adanya “nyamuk-nyamuk berisik”. Namun hanya sedikit yang mengerti bahwa pengkritik (dalam hal ini dianalogkan sebagai nyamuk) ada sebagai pengingat bahwa keadaan sudah mulai kotor dan rusak, oleh karenanya sang pemimpin (penguasa) wajib berbenah diri. Itu pun jika pemimpinnya lurus serta mau mengerti. Jika tidak, pemimpin itu akan malah menutup mata serta telinganya.

Ada dua kemungkinan sikap yang bakal diambil dari penguasa organisasi. Jika penguasa organisasi itu berkarakter otoriter, ia akan mengambil sikap “membunuh nyamuk-nyamuk yang ada di sekitar”, melalui berbagai cara yang dipandangnya efektif. Bisa dengan mengkebiri ruang geraknya di tubuh organisasi itu atau juga bisa dengan mematikan sama sekali kiprah para pengkritik di organisasi itu. Lalu bisa juga dengan menawarinya “sesuatu” agar ia bungkam. Cara kedua ialah, jika penguasa itu berkarakter bijaksana dan mampu bersikap dewasa, terlebih dahulu, yang akan ia lakukan ialah membenahi/membersihkan lingkungannya yang kotor serta cara bersikap yang mengakibatkan organisasinya menjadi rusak. Niscaya “nyamuk-nyamuk” itu akan dengan senang hati menghilang untuk sementara waktu sampai organisasi itu kotor kembali.

Suatu ketidakdewasaan jika penguasa (pimpinan organisasi/pemimpin organisasi) tidak bisa menerima para pengkritik ada di sekitarnya padahal ia tau tak akan ada organisasi yang sempurna. Terlebih di Indonesia yang menggunakan system demokrasi, dimana mewajibkan masing-masing manusia mempunyai kuasa serta suara. Dalam system ini, masing-masing manusia dibebaskan untuk mengkritik sejauh batasan-batasan yang diperbolehkan (yang disepakati).

Tidak adil rasanya, jika kita insan organisasi hanya menerima demokrasi ketika muktamar saja (musyawarah tertinggi dalam tubuh organisasi) sedangkan di luar itu tidak. Tipe pemimpin yang berkarakter fasis (mau menang sendiri tanpa memperhatikan aspirasi masyarakat organisasi) harus diminimalisir jika tidak bisa dihilangkan. Tipe pemimpin fasis bisa dipastikan ia otoriter serta tidak mau menerima kritik. Dan akan cenderung menggunakan cara pertama dalam menyikapi “nyamuk”/pengkritik. Ia akan memberangus para pengkritik sehingga organisasi akan tetap dalam keadaannya yang rusak.

Pemimpin seperti itu pasti akan sangat merasa terusik, terganggu dan bising jika ada pengkritik di sekitarnya. Ia tak akan mau sedikit pun membuka telinganya, yang ia bisa lakukan ialah tutup telinga lalu “membunuhi nyamuk-nyamuk” di sekitarnya. Pemimpin seperti ini, pro status quo dan anti perubahan. Mau serusak apa pun organisasinya yang penting ia merasa nyaman, telinganya akan sengaja ia tulikan serta matanya akan dengan sengaja ia butakan.

Mau berdialog dengan para pengkritik adalah pertanda seorang pemimpin mau membuka diri, membuka telinga, serta membuka mata. Ini solusi agar organisasi, kendaraan tempatnya menuju cita-cita tertentu tetap dalam keadaan sehat. Para pengkritik atau nyamuk-nymuk berisik akan senantiasa ada dan niscaya ada sebagai pengingat satu rumah organisasi telah kotor dan harus sesegera mungkin dibersihkan atau siapa lagi yang bakal mengingatkan bahwa organisasi tengah rusak dan harus sesegera mungkin diperbaiki. Sikap yang tidak tepat jika malah membunuhi nyamuk-nyamuk, karena siapa lagi yang bertugas mengingatkan serta mencegah organisasi hancur lantaran tak ada pengingat.

Senin, 07 Februari 2011

Perekonomian banyuwangi

Kondisi perekonomian daerah secara makro di Kabupaten Banyuwangi dari tahun 2006 hingga 2010
menunjukkan pergerakan yang stabil. Hal ini dapat ditunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang meningkat dari tahun 2006 sebesar 4,58 persen menjadi 5,59 pada tahun 2007 dan meningkat menjadi 6,04 persen pada tahun 2009. Demikian pula Produk Domestik Regional Bruto (PDRB ADHK), mengalami peningkatan yang signifikan dari tahun 2005 sebesar 8,39 trilyun rupiah meningkat menjadi 9,3 trilyun rupiah tahun 2007 dan menjadi 10,4 trilyun rupiah pada tahun 2009. Secara rinci dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

PDRB ADHK dan Pertumbuhan Ekonomi
Kabupaten Banyuwangi Tahun 2006-2010
No Sektor
Realisasi Kondisi
2006
2007
2008
2009
2010
1 PERTANIAN
4.178.474,97
4.371.508,37
4.610.837,91
4.852.070,74
5.134.326,25
2 PERTAMBANGAN &
PENGGALIAN
335.450,56
354.370,48
375.773,94
400.032,86
426.031,59
3 INDUSTRI PENGOLAHAN
500.095,16
517.825,45
538.906,54
561.314,48
588.452,20
4 LISTRIK, GAS DAN AIR
MINUM
52.475,13
55.266,02
58.347,90
61.668,00
65.685,97
5 BANGUNAN
26.729,36
28.164,25
30.043,75
32.116,82
33.470,68
6 PERDAGAN , RESTORAN &
HOTEL
1.887.714,39
2.025.100,05
2.171.970,61
2.334.754,61
2.511.102,45
7 PENGANGKUTAN &
KOMUNIKASI
372.265,76
390.056,18
405.812,29
429.048,29
451.014,23
8 BANK DAN LEMBAGA
KEUANGAN
574.935,64
591.591,24
613.594,18
643.935,42
671.011,14
9 JASA-JASA
462.701,85
482.045,10
503.778,56
530.111,77
558.234,84

TOTAL
8.390.842,82
8.815.927,14
9.309.065,68
9.845.052,99
10.439.329,35

Pertumbuhan
Ekonomi
4,58%
5,07%
5,59%
5,76%
6,04%

PORSENTASE PERTUMBUHAN SEKTOR - SEKTOR
KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN 2005-2010
No Sektor
Realisasi Kondisi
2006
2007
2008
2009
2010
1 PERTANIAN
3,70
4,62
5,47
5,23
5,82
2 PERTAMBANGAN &
PENGGALIAN
6,13
5,64
6,04
6,46
6,50
3 INDUSTRI PENGOLAHAN
3,00
3,55
4,07
4,16
4,83
4 LISTRIK, GAS DAN AIR
MINUM
5,20
5,32
5,58
5,69
6,52
5 BANGUNAN
4,40
5,37
6,67
6,90
4,22
6 PERDAGAN , RESTORAN &
HOTEL
6,69
7,28
7,25
7,49
7,55
7 PENGANGKUTAN &
KOMUNIKASI
5,70
7,78
4,04
5,73
5,12
8 BANK DAN LEMBAGA
KEUANGAN
4,58
2,90
3,72
4,94
4,20
9 JASA-JASA
3,74
4,18
4,51
5,23
5,31

TOTAL
8.390.842,82
8.815.927,14
9.309.065,68
9.845.052,99
10.439.329,35

Pertumbuhan
Ekonomi
4,58%
5,07%
5,59%
5,76%
6,04%

KONTRIBUSI SEKTOR DALAM PDRB (ADHK)
KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN 2006-2010
No Sektor
Realisasi Kondisi
2006
2007
2008
2009
2010
1 PERTANIAN
49,80
49,59
49,53
49,28
49,18
2 PERTAMBANGAN &
PENGGALIAN
4,00
4,02
4,04
4,06
4,08
3 INDUSTRI PENGOLAHAN
5,96
5,87
5,79
5,70
5,64
4 LISTRIK, GAS DAN AIR
MINUM
0,63
0,63
0,63
0,63
0,63
5 BANGUNAN
0,32
0,32
0,32
0,33
0,32
6 PERDAGAN , RESTORAN &
HOTEL
22,50
22,97
23,33
23,72
24,05
7 PENGANGKUTAN &
KOMUNIKASI
4,44
4,42
4,36
4,36
4,32
8 BANK DAN LEMBAGA
KEUANGAN
6,85
6,71
6,59
6,54
6,43
9 JASA-JASA
5,51
5,47
5,41
5,38
5,35

TOTAL
8.390.842,82
8.815.927,14
9.309.065,68
9.845.052,99
10.439.329,35

Pertumbuhan
Ekonomi
4,58%
5,07%
5,59%
5,76%
6,04%

Berdasarkan data tersebut diatas, nampak bahwa kondisi ekonomi Kabupaten Banyuwangi mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahunnya sejak tahun 2005 sebesar 4,58 persen. Kondisi ini terus meningkat pada tahun 2006 hingga tahun 2009, yakni pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi berada diatas 5 persen. Meskipun pada akhir tahun 2007 hingga kuartal kedua tahun 2008, pertumbuhan ekonomi nasional dan dunia sempat tertekan akibat kenaikan harga BBM dunia yang pada akhirnya mendorong naiknya harga BBM, barang dan jasa di dalam negeri, namun kondisi di Kabupaten Banyuwangi dapat dipertahankan. Imbas yang terjadi di Kabupaten Banyuwangi adalah pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 yang sedikit melambat dan hanya mencapai 5,49 persen tahun 2008 dari sebelumnya sebesar 5,42 persen.

Jumat, 04 Februari 2011

Mengenal Sejarah Blambangan

Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, sebelah selatan Banyuwangi. Raja yang terakhir menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo. Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit. Blambangan dianggap sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Jawa.

Sebelum menjadi kerajaan berdaulat, Blambangan termasuk wilayah Kerajaan Bali. Usaha penaklukan kerajaan Mataram Islam terhadap Blambangan tidak berhasil. Inilah yang menyebabkan mengapa kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk pada budaya Jawa Tengahan, sehingga kawasan tersebut hingga kini memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali juga tampak pada berbagai bentuk kesenian tari yang berasal dari wilayah Blambangan.
Merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah Blambangan kiranya tanggal 18 Desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi Banyuwangi. Sebelum peristiwa puncak perang Puputan Bayu tersebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, yaitu peristiwa penyerangan para pejuang Blambangan di bawah pimpinan Pangeran Puger ( putra Wong Agung Wilis ) ke benteng VOC di Banyualit pada tahun 1768.

Namun sayang peristiwa tersebut tidak tercatat secara lengkap pertanggalannya, dan selain itu terkesan bahwa dalam penyerangan tersebut kita kalah total, sedang pihak musuh hampir tidak menderita kerugian apapun. Pada peristiwa ini Pangeran Puger gugur, sedang Wong Agung Wilis, setelah Lateng dihancurkan, terluka, tertangkap dan kemudian dibuang ke Pulau Banda ( Lekkerkerker, 1923 ).

Berdasarkan data sejarah nama Banyuwangi tidak dapat terlepas dengan keajayaan Blambangan. Sejak jaman Pangeran Tawang Alun (1655-1691) dan Pangeran Danuningrat (1736-1763), bahkan juga sampai ketika Blambangan berada di bawah perlindungan Bali (1763-1767), VOC belum pernah tertarik untuk memasuki dan mengelola Blambangan ( Ibid.1923 :1045 ).

Pada tahun 1743 Jawa Bagian Timur ( termasuk Blambangan ) diserahkan oleh Pakubuwono II kepada VOC, VOC merasa Blambangan memang sudah menjadi miliknya. Namun untuk sementara masih dibiarkan sebagai barang simpanan, yang baru akan dikelola sewaktu-waktu, kalau sudah diperlukan. Bahkan ketika Danuningrat memina bantuan VOC untuk melepaskan diri dari Bali, VOC masih belum tertarik untuk melihat ke Blambangan (Ibid 1923:1046).

Namun barulah setelah Inggris menjalin hubungan dagang dengan Blambangan dan mendirikan kantor dagangnya (komplek Inggrisan sekarang) pada tahun 1766 di bandar kecil Banyuwangi ( yang pada waktu itu juga disebut Tirtaganda, Tirtaarum atau Toyaarum), maka VOC langsung bergerak untuk segera merebut Banyuwangi dan mengamankan seluruh Blambangan. Secara umum dalam peprangan yang terjadi pada tahun 1767-1772 ( 5 tahun ) itu, VOC memang berusaha untuk merebut seluruh Blambangan. Namun secara khusus sebenarnya VOC terdorong untuk segera merebut Banyuwangi, yang pada waktu itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan di Blambangan, yang telah dikuasai Inggris.

Dengan demikian jelas, bahwa lahirnya sebuah tempat yag kemudian menjadi terkenal dengan nama Banyuwangi, telah menjadi kasus-beli terjadinya peperangan dahsyat, perang Puputan Bayu. Kalau sekiranya Inggris tidak bercokol di Banyuwangi pada tahun 1766, mungkin VOC tidak akan buru-buru melakukan ekspansinya ke Blambangan pada tahun 1767. Dan karena itu mungkin perang Puputan Bayu tidak akan terjadi ( puncaknya ) pada tanggal 18 Desember 1771. Dengan demikian pasti terdapat hubungan yang erat perang Puputan Bayu dengan lahirnya sebuah tempat yang bernama Banyuwangi. Dengan perkataan lain, perang Puputan Bayu merupakan bagian dari proses lahirnya Banyuwangi. Karena itu, penetapan tanggal 18 Desember 1771 sebagai hari jadi Banyuwangi sesungguhnya sangat rasional.

SITUS-SITUS BUMI BLAMBANGAN

- Makam-Makam Bupati Banyuwangi
Barat pengimaman masjid Baiturrohman terdapat makam-makam bupati Banyuwangi antara lain : Wiroguno II (1782-1818), Suronegoro (1818-1832), Wiryodono Adiningrat (1832-1867), Pringgokusumo (1867-1881), Astro Kusumo (1881-1889), sedangkan Bupati pertama Banyuwangi Mas Alit (1773-1781) gugur dan dimakamkan di Karang Asem Sedayu. Hanya bajunya saja yang dikebumikan di taman pemakaman tersebut.

- Masjid Jami’ Baiturrohman
Tanah wakaf dari masa (Wiroguno I) yang direhap pertama kali pada masa Raden Tumenggung Pringgokusumo. Dulu terdapat kaligrafi bertuliskan Allah Muhammad yang ditulis oleh Mas Muhammad Saleh dengan pengikutnya Mas Saelan. Mulai tahun 2005 sampai sekarang Masjid ini masih dalam tahap renovasi dan akan menjadi salah satu aikon Banyuwangi setelah selesai di renovasi.

- Sumur Sri Tanjung
Ditemukan pada masa Raden Tumenggung Notodiningrat (1912-1920). Terletak di timur Pendopo Kabupaten. Sri tanjung dan Sidopekso merupakan legenda turun-menurun yang merupakan kisah asmara dan kesetiaan yang merupakan cikal bakal Banyuwangi.
Konon jika sewaktu-waktu air sumur berubah bau menjadi wangi maka itu akan menjadi suatu pertanda baik / buruk yang akan menimpa suatu daerah ataupun bangsa ini.


- Musium Blambangan
Berlokasi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi. Awalnya didirikan oleh Bupati Banyuwangi Djoko Supaat Selamet yang berkuasa pada tahun (1966-1978) di kompleks pendopo Kabupaten Banyuwangi namun pada tahun 2004 Musium direlokasikan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi hingga sekarang.
Koleksi yang dimiliki oleh museum antara lain: Berbagai macam kain batik, contoh rumah adat using Banyuwangi, kain-kain dari masa lampau, replica seni musik angklung, aneka macam senjata perang, alat-alat musik peninggalan Belanda, dan yang paling menarik perhatian pengunjung untuk melihat replica Barong dan penari Gandrong yang menjadi simbol Kota Banyuwangi

- Sonangkaryo
Sonangkaryo adalah umbul-umbul kerajinan Blambangan, menurut Mishadi hasil wawancara dengan Sayu Darmani (Tumenggungan) bahwa ibunya yang bernama Sayu Suwarsih telah lama menyimpan Sonangkaryo tersebut, namun ketika dirasa tidak kuat lagi mengemban amanah tersebut, maka dibuanglah satu kotak pusaka yang berisi umbul-umbul Sonangkaryo, Cemeti, dan Lebah penari musuh.

- Tugu TNI 0032
Taman Makam pahlawan yang terletak di bibir pantai Boom merupakan pertempuran tentara laut NKRI yang dipimpin oleh Letnan Laut Sulaiman melawan AL, AD, dan AU Belanda pada tanggal 21 Juli 1947. Tugu tersebut disahkan oleh Presiden RI yang pertama yaitu Bung Karno.

- Benteng Ultrech (Kodim)
Berada di batas selatan markas Kodim, dulu terdapat rumah nuansa Portugis yang dijadikan sebagai tempat pengintaian Balanda terhadap gerak-gerik orang Blambangan di pendopo pada masa pemerintahan Mas Alit.

- Inggrisan
Dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1766-1811, yang luasnya sekitar satu hektar, merupakan markas yang dulunya bernama Singodilaga, kemudian diganti dengan nama Loji (Inggris = Lodge, artinya penginapan / pintu penjagaan) yang disekitarnya dibangun lorong-lorong terhubung dengan Kali Lo (Selatan), dan Boom (Timur) akhirnya diserahkan kepada Inggris setelah Belanda kalah perang (Sumber Java’s Last Frontier, Margono. 2007),selatan berupa perkantoran yang disebut Bire (Sekarang Telkom) dan kantor pos, di daerah tersebut pernah terjadi peristiwa yang hamper mirip dengan peristiwa di hotel Yamato, Surabaya, yaitu orang-orang Blambangan dengan berani merobek bendera belanda yang berwarna merah putih biru menjadi merah putih saja.
Depan Inggrisan terdapat Tegal Loji, selatannya adalah perkampungan Belanda (Kulon dam), timurnya adalah Benteng Ultrech dan tempat penimbunan kayu gelondongan (sekarang Gedung Wanita) sebelah utara dulu sebagai kantor regent dan garasi kuda mayat (sekarang Bank Jatim) dan perumahan Kodim sekarang, dulu adalah markas polisi Jepang / kompetoi lalu jaman Belanda dijadikan perumahan svout.

- Makam Datuk Malik Ibrahim
Salah satu Waliyullah keturunan Arab Saudi yang banyak di kunjungi peziarah dari dalam dan luar Banyuwangi terletak di Desa Lateng Banyuwangi.

- Konco Hoo Tong Bio<
Terletak di Pecinan kecamatan kota Banyuwangi pada waktu terjadi pembantaian orang-orang Cina oleh VOC di Batavia, seorang yang bernama Tan Hu Cin Jin dari dratan Cina yang menaiki perahu bertiang satu.
Perahu tersebut kandas di sekitar pakem dan Tan Hu Cin Jin memutuskan menetap di wilayah Banyuwangi. Untuk mengenang peristiwa tersebut, didirikanlah klenteng Hoo Tong Bio.
Setiap tanggal 1 bulan Ciu Gwee (kalender cina), pada tengah malam sebelum tahun baru diadakan sembahyang bersama. Dalam acara tahun baru Imlek kesenian barong Said an Kong-kong ditampilkan, kemudian ada sebuah acara yang disebut Cap Go Mee dirayakan pada hari ke 15 sesudah tahun baru Imlek, dengan mengarak patung yang Maha Kong Co Tan Hu Cin Jin keliling disekitar kampung pecinan. Hal ini dimaksud kan untuk menolak bala’ dan mengharap berkah kepada Tuhan. Acara ini dimiriahkan dengan tarian barongsai dan berbagai kesenian daerah lainnya. Makanan khas yang disajikan adalah lontong Cap Go Mee.

Tak hanya itu, Hari ulang tahun tempat ibadah Tri Dharma “Hoo tong Bio” yang dibangun pada tahun 1781, ucapan itu bertujuan untuk memperingati kebesaran yang mulia Kong Co Tan Hu Cin Jin dan biasanya doadakan pd tanggal 27 Agustus.

- Watu Dodol
Sebuah batu besar terletak di daerah ketapang yang pernah ditarik oleh kapal Jepang, pernah dijadikan benteng pertahanan Jepang pada masa perang dunia II, dan pada maa setelah kemerdekaan dijadikan tempat pendaratan Belanda antara lain 14 April 1946 yang mendapatkan perlwanan orang Banyuwangi dibawah kepemimpinan Pak Musahra (orang tua dari Lurah Astroyu), 20 Juli 1946 Belanda mendapatkan perlawanan dari Yon Macan Putih yang dipimpin oleh Raden Abdul Rifa’I dan Letnan Ateng Yogasana, 21 Juli 1947, Yon Macan Putih yang berhasil menenggelamkan kapal dan tengker milik Belanda.
Sejak dahulu kala tempat ini dijadikan tempat Upacara Agama Hindu yaitu Jala Dipuja / Melasti / Melayis yang di maksud untuk memohon anugerah dari penguasa laut, pelaksanaannya bertepatan pada saat mentari bergeser ke Utara khatulistiwa sebelum datangnya hari raya Nyepi.
Upacara ini dipimpin oleh seorang pendeta yang memberkati umatnya dengan cara mencipratkan “Tirta Suci” yaitu air suci yang diambil dari sumur pitu (tujuh sumber air)

Selasa, 01 Februari 2011

Selamat Datang Tahun Kelinci Emas 2011

Pada hari Kamis, 3 Februari 2011, Tahun kelinci Emas yang penuh keagungan dalam sistem penanggalan China akan berakhir, dan Tahun Kelinci Emas yang ramah akan melompat masuk untuk menggantikannya. Orang-orang China di berbagai belahan dunia, termasuk juga di China sendiri tentunya, akan merayakan pergantian tahun itu dengan meriah.

Kelinci dalam mitologi Cina (Fengshui) adalah lambang umur panjang dan dikatakan sebagai turunan Bulan, maka tidak mengherankan bila orang yang lahir pada tahun Kelinci tergolong paling beruntung di antara kedua belas shio lainnya. Kelinci juga melambangkan keanggunan, sopan-santun, nasihat baik, kebaikan dan kepekaan terhadap segala bentuk keindahan. Perkataannya yang lemah-lembut, dan gerak-geriknya yang luwes tetapi cekatan justru membentuk tipe watak yang diperlukan bagi diplomat yang sukses atau politikus yang piawai.

Kalangan etnik Tionghoa menyambut penuh suka cita kehadiran tahun 2011. Pasalnya, tahun ini merupakan shio kelinci dengan unsur emas yang mempunyai karakter sekaligus keberuntungan sangat bagus karena dewi bulan akan turun di bumi menyebar keberuntungan dan hoki dalam berkarier, termasuk bisnis. Kendati demikian, diimbau untuk berhati-hati dalam berkendara.

Menelisik kebudayaan etnik Tionghoa teramat mengasyikkan. Salah satu hal menarik, adalah soal shio dalam kehidupan masyarakatnya. Shio merupakan zodiak Tionghoa yang menggunakan hewan untuk melambangkan tahun, bulan dan waktu dalam astrologi Tionghoa. Pada dasarnya, hewan-hewan tersebut diambil melambangkan dua belas cabang bumi yang kemudian digabung bersama lima unsur membentuk satu periode 60 tahun. Istilah shio dalam bahasa Indonesia diambil dari lafal dialek Hokkian sheshio (Hanzi: ??, pinyin: shengxiao) yang lazim dituturkan di Indonesia. Keduabelas shio dimaksud, masing-masing, Tikus, Kerbau, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing, dan Babi.

Sejumlah informasi menyebutkan, seorang individu tidak hanya memiliki satu shio, tetapi tiga zodiak shio, masing-masing shio tahun, shio bulan dan shio waktu. Kombinasi dari lima elemen, 12 shio tahun, 12 shio bulan dan 12 shio waktu menghasilkan 8640 kombinasi. Berdasarkan astrologi Tionghoa, shio bulan menentukan kehidupan asmara seseorang.

Tercatat dalam sejarah, zodiak binatang China dikenalkan kurang lebih pada tahun 2637 SM. Saat itu, Kaisar Cina Huang Ti memulai putaran pertama dari zodiak tersebut pada tahun pemerintahannya yang ke-61. Tidak seperti astrologi barat yang berdasar pada peredaran planet dalam tata surya, astrologi China didasarkan atas kalender bulan yang dimulai pada akhir Januari hingga pertengahan Februari setiap tahun, tergantung pada tanggal jatuhnya bulan baru. 

Atas dasar itu, 2011 diyakini sebagai tahun Kelinci. Sesuai tipikal kelinci, pemilik shio ini relatif rapuh dan membutuhkan dasar kuat untuk berjuang. Tanpa teman atau keluarga yang mendukung, kelinci akan gagal dan kecewa untuk menghadapi setiap konflik. Rasa sedih yang dialami kelinci juga dapat menimbulkan penyakit.

Apalagi, kelinci tidak menyukai argumen dan konflik lain atau mencoba apapun untuk menhindari suatu perkelahian, sehingga pemilik shio ini kerap merasa tersisihkan. Kelinci dapat juga menjadi pesimis dan terlihat tidak berkembang, serta dalam kehidupannya cenderung menyembunyikan kelemahannya. Kelinci cenderung bergerak belajar melalui kehidupan sendiri yang seringkali membuang-buang waktu karena shio ini tidak tertarik menghadapi masalah dan mengatasinya.

Secara umum, semangat akan mendorong keberuntungan. Tapi, tidak bisa tenang tanpa kekhawatiran karena inisiatif subyektif bakal memainkan bagian yang genting dalam keberuntungan. Ada beberapa hambatan di bawah pengaruh bintang kegelapan, meski mampu teratasi pada saat yang kritis. Jaringan sosial banyak memengaruhi karir dan kehidupan, serta harmoni akan mendongkrak hasil. Di sisi karir, tahun ini merupakan musim panen. Kelinci pengusaha akan berada pada situasi beruntung. Ambil saja kesempatan itu untuk mendapat laba lebih dari operasi. Sejumlah masalah yang menghadang bakal bisa terpecahkan melalui ketekunan. Kerja keras dan sikap yang baik akan dihadiahi promosi dalam tingkat dan penghasilan. Selesaikan perdebatan dengan lembut untuk menghindari pertengkaran. Orang muda harus memperluas cakrawala pemikiran, sehingga memiliki masa depan yang lebih cerah.

Dari sisi kekayaan, hampir sama datangnya dengan keberuntungan dalam karier. Hanya saja, keberuntungan dalam hal kekayaan tidak stabil, sehingga mudah terpengaruh oleh banyak hal. Hati-hati untuk menghindarkan kehilangan cepat. Jika mampu menangani kecelakaan dan konflik secara benar, kerugian akan berkurang. Nikmati juga keberuntungan dalam berinvestasi. Satu hal pasti, pemilik shio kelinci merupakan orang yang pendiam, pemalu, retrospektif, dan bertenggang rasa.

Senin, 31 Januari 2011

Saatnya Rakyat Dibela

Rakyat kita ada dua. Pertama, yang bisa mengurus diri, termasuk kesehatannya. Kedua, rakyat yang baru berobat kalau punya duit. Jumlah kelompok kedua lebih dari empat perlima penduduk, perlu dibela karena rentan jatuh sakit.
Bukan obat, tetapi...
Konsep pembangunan kesehatan kita belum berubah. Paradigmanya preventif-promotif. Jika pasien puskesmas terus bertambah, artinya preventif-promotif belum jitu. Hal itu karena kerja puskesmas baru dinilai berhasil jika dokter berkunjung dari pintu ke pintu, rutin ikut rapat mingguan dengan pamong, bekerja sama lintas sektoral, aktif menyuluh, dan cakupan imunisasi terus menjaring lebih luas.
Puskesmas juga terbilang berhasil bila yang datang untuk menimbang bayi bertambah, kunjungan poliklinik menurun, air bersih tersedia, selokan dan jamban keluarga dibudidayakan. Dari sinilah sebaiknya niat revitalisasi puskesmas berawal.
Tercapainya target MDGs banyak bergantung sehatnya sikap puskesmas terhadap ibu dan anak. Target MDGs bisa tercapai bila kematian bayi dan ibu hamil bisa ditekan. Untuk itu, rakyat perlu mendapat air bersih, kebersihan perorangan dan sanitasi meningkat, selebihnya mendongkrak pendidikan ibu.
Tidak semua ibu siap menjadi ibu. Derajat kesehatan keluarga ditentukan pendidikan ibu. Pendidikan ibu menentukan keberhasilan perbaikan angka kematian bayi, ibu hamil, dan melahirkan. Intervensi pemberdayaan ibu sejatinya menjadi prioritas. Safe motherhood, salah satunya.
Bagi empat perlima rakyat, menyuluh kesehatan laik dijadikan bagian pelaksanaan konsep primary health care (PHC). Apa pun bentuk layanan PHC, asasnya dari, oleh, dan untuk rakyat. Kita pernah mengerjakannya dalam bentuk pembangunan kesehatan masyarakat desa, selain posyandu, dana sehat, dan sejenisnya, yang kini terlupakan.
Orientasi kesehatan
Sektor kesehatan tidak mungkin melangkah sendiri. Dalam pelaksanaan PHC, perlu terjalin kerja sama lintas sektoral yang dulu pernah dikerjakan. Selain itu, apa pun sektornya perlu sepakat, pembangunan sektor apa pun wajib berorientasi kesehatan. Kesepakatan itu bisa meringankan sektor kesehatan.
Membangun jalan raya, jembatan, infrastruktur, pariwisata, transmigrasi, transportasi, dan lainnya wajib memperhitungkan aspek kesehatan sejak perencanaan. Sektor kesehatan butuh bantuan sektor pekerjaan umum untuk membangun penyediaan air bersih, butuh sektor pertanian dan kelautan guna meningkatkan gizi keluarga, butuh sektor dalam negeri guna menggiatkan partisipasi masyarakat, sektor komunikasi untuk menyuluh rakyat agar pintar sehat.
Di lapangan, sumber mata air kita berlimpah, tetapi masyarakat sekitar kekurangan air bersih. Hanya bila puskesmas mau berpikir bagaimana membangun instalasi (teknologi tepat guna dengan pekerjaan umum) sehingga sumber air bisa dimanfaatkan rakyat.
Hal lain, tak semua kasus kekurangan gizi karena kepapaan. Banyak pula karena ketidakberdayaan dan ketidaktahuan. Maka perlu dijalin lintas sektoral dengan pertanian, mengajak rakyat bercocok tanam hidroponik di pekarangan sempit, budidaya belut di gentong, meningkatkan gizi keluarga secara sederhana.

Promotor kesehatan
Selain itu, sektor kelautan, mengolah ”bubuk ikan” bagi rakyat pegunungan yang kurang protein hewani. Rakyat pesisir yang kecukupan ikan butuh bimbingan bercocok tanam hidroponik untuk memenuhi kecukupan sayur dan bebuahan.
Agar bisa bergerak, rakyat perlu dibimbing. Maka diperlukan penggerak. Dulu dikenal ”promokesa” atau promotor kesehatan desa. Kader kesehatan dari masyarakat ini menjadi penyambung tangan puskesmas dengan rakyat. Promokesa lebih akrab dengan masyarakat sekaligus mudah memotivasi segala bentuk kegiatan yang menyehatkan rakyat, termasuk agar rakyat mampu membatalkan jatuh sakitnya.
Karena itu, tak tepat jika pembangunan kesehatan lebih mengalokasikan belanja obat ketimbang memberdayakan rakyat agar mampu membatalkan jatuh sakit. Saatnya fokus pembangunan kesehatan tidak menunggu rakyat telanjur sakit, tetapi menjadikan mereka sehat sejak awal.
Sudah lama mayoritas rakyat kita terlunta karena sering sakit yang sebetulnya tidak perlu. Belum tentu mereka mampu berobat saban kali sakit. Membantunya terus memberi obat murah dan rumah sakit gratis yang memerlukan anggaran besar dan kita belum memungkinkan untuk memilih itu.
Kini harus dilakukan, membangun rakyat agar tidak sakit sejak hulu. Ongkos untuk itu lebih murah karena kegiatan menyuluh, menjalin kerja sama lintas sektoral, membangun kader kesehatan, dan kesepakatan semua sektor membangun berorientasi kesehatan tidak lebih boros dari belanja obat dan rumah sakit gratis.

Hujan membasahi bumi blambangan…tentunya ada hikmah di balik itu…

Hujan yang turun di bumi ini. Ada yang senang, dan ada juga yang sedih. Lho..?? Koq klo turun hujan malah sedih. Bukannya hujan merupakan rahmat dari ALLAH swt.
Pertama, klo lagi jemur baju yg udah dicuci, terus hujan turun and kita blom sempet masukkin tuh baju apalagi bajunya itu udah mau kering…yah sedih jg degh…udah mau kering tp ngga sempet dilindungi tuh baju and kehujanan, yah nungguin kering lagi degh…(pengalaman anak kost2an…hahaha…) Yah mungkin itu juga salah kita juga kenapa ngga sempet dimasukkin ke dalam rumah tuh baju, kenapa masih nangkring di jemuran..Tp yg namanya manusia, wajar aja klo lupa ya…tp jgn sampe kebiasaan lho..bisa gawat..ntar malah kita lupa sama nama sendiri..haha…=p

Kedua, hujan yang kelamaan pun terkadang bisa menyebabkan banjir. Lho..?? Banjir koq malah nyalahin hujan ya…Khan ada juga karena campur tangan manusia itu sendiri yang menyebabkan banjir seperti buang sampah sembarangan, tidak membuat lahan penyaringan air dengan sempurna seperti banyaknya pohon2 yang ditebang, dll. Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya :
“Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut disebabkan perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah : Adakanlah perjalanandimuka bumi dan perlihatkanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS Ar Rum : 41-42)
Karena perbuatan tangan-tangan manusialah, bencana alam yang seharusnya bisa dihindari ternyata malah menimpa manusia itu sendiri. Itu merupakan peringatan dari Allah kepada manusia yang telah menyia-nyiakan dan menyalahgunakan segala sumber daya alam yang telah disediakan untuk kita.
Terlepas dari itu semua, hujan merupakan rahmat bagi hamba-Nya yang selalu beryukur. Walaupun hujan yang lebat dan mungkin menghalangi kita untuk bepergian (apalagi pas pengen pulang, eh tiba-tiba hujan..=p) kita harus tetap bersyukur dan berdzikir kepada-Nya. Bahkan tumbuhan dan hewan pun selalu berdzikir kepada-Nya. Dengan turunnya hujan, mungkin saja tumbuhan dan hewan pada senang karena mendapat asupan air dari Sang Pencipta.
Hujan pun telah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang sangat berperan penting di dalam kehidupan manusia. Bisa sebagai paru-paru kota, penyaring air, tempat berteduh dari teriknya matahari, bahkan bisa sebagai pelengkap sajian pada saat jam makan sebagai lalapan.
Selain itu, tumbuhan pun bisa menghasilkan buah-buahan yang tentunya kita pun bisa menyantapnya.
Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah , padahal kamu mengetahui” (QS Al Baqoroh : 22)
Karena itulah hujan pun harus tetap kita syukuri, karena banyak sekali rahmat dan rezeki yang diberikan Allah melalui hujan. Walaupun hujan deras datang menghampiri, kita harus tetap menyambutnya dengan penuh rasa syukur hanya kepada-Nya. Tentunya ada hikmah yang bisa diambil jikalau kita merasa “resah” terhadap hujan tersebut.